INSTAGRAM FEEDS / @fariskatili

Sunday, 31 January 2010

Modul Deuteromycota

Modul

Deuteromycota

Modul Ini Dibuat Untuk Melengkapi Tugas Mata Pelajaran Biologi 2

Oleh:

Yusuf Arya Pratama (39)

X-D

Pembimbing:

Dra. Masriah

clip_image002

SMA Negeri 78

Jakarta

2010

Daftar Isi

Daftar Isi.............................................................................................1
Standar Kompetensi.............................................................................2
Kompetensi Dasar....................................................................................2
Indikator................................................................................................2
Pendahuluan............................................................................................2
Ruang Lingkup (Peta Konsep)..................................................................4
Ciri Jamur.......................................................................................5
Cara Hidup...................................................................................8
Habitat.................................................................................................9 Reproduksi...........................................................................................9
Klasifikasi Jamur..................................................................................11
Deuteromycota....................................................................................11
Kegiatan (Eksperimen)............................................................................14
Rangkuman............................................................................................15
Evaluasi................................................................................................16 Daftar Pustaka...............................................................................…......18

Standar Kompetensi : Memahami prinsip-prinsip pengelompokan makhluk hidup

Kompetensi Dasar : Mendeskripsikan ciri-ciri dan jenis jamur berdasarkan hasil pengamatan, percobaan, dan kajian literatur, serta peranannya bagi kehidupan.

Indikator :

1. membandingkan ciri-ciri jamurdengan organisme lain

2. membedakan ciri-ciri berbagai kelompok jamur

3. mengklasifikasikan jamur berdasarkan ciri-cirinya

4. merangkum informasi peran jamur bagi kehidupan

5. mengumpulkan informasi memanfaatkan jamur untuk konsumsi

Pendahuluan

Coba kamu amati halaman rumahmu saat musim hujan atau tempat-tempat lain yang lembap dan teduh. Kamu mungkin dapat menemukan suatu organisme seperti tumbuhan kecil berbentuk payung berwarna putih. Organisme itu adalah jamur atau cendawan. Apakah jamur itu? Jamur atau kulat (bahasa Madura, Melayu) merupakan organisme eukariotik dan tidak berklorofil. Sel jamur memiliki dinding yang tersusun atas kitin. Oleh karena sifat-sifat tersebut, jamur tidak dapat dikelompokkan ke Kingdom Hewan maupun Tumbuhan. Dalam klasifikasi sistem dua kingdom, jamur dikelompokkan sebagai tumbuhan. Namun, dalam sistem klasifikasi lima atau enam kingdom oleh Whittaker, jamur dikelompokkan dalam kingdom tersendiri, yaitu kingdom Fungi.

Jamur di alam sangat beragam dalam bentuk maupun warnanya. Ilmuwan mikologi (Yunani, mykes = jamur) memperkirakan jenis jamur yang sudah teridentifikasi mencapai sekitar 100 ribu spesies.

Jamur tidak berklorofil, sehingga tidak dapat hidup secara autotrof, melainkan harus hidup secara heterotrof. Umumnya jamur hidup secara saprofit, artinya hidup dari penguraian sampah-sampah organik seperti bangkai, sisa tumbuhan, makanan, dan kayu lapuk, menjadi bahan-bahan anorganik. Lihat Gambar 1.1. Ada pula jamur yang hidup parasit, artinya jamur mendapatkan bahan organik dari inangnya misalnya dari manusia, hewan, dan tumbuhan. Ada pula jamur yang hidup secara simbiosis mutualisme, yakni hidup bersama dengan organisme lain dan bersifat saling menguntungkan, misalnya bersimbiosis dengan alga membentuk lumut kerak.

Jamur uniseluler misalnya ragi atau Saccharomyces dapat mencerna tepung hingga terurai menjadi gula, dan gula dicerna menjadi alkohol. Jamur multiseluler misalnya jamur tempe dapat menguraikan protein sederhana dan asam amino. Bagaimana cara sel-selnya menguraikan bahan makanan itu? Jamur tidak memasukkan molekul besar ke dalam sel-selnya. Makanan dicerna di luar sel sehingga disebut pencernaan ekstraseluler, sama seperti pada bakteri. Caranya, sel jamur mengeluarkan enzim pencernaan. Enzim pencernaan akan menguraikan molekul kompleks menjadi molekul sederhana. Jika sudah tercerna, zat makanan akan masuk ke dalam sel jamur secara osmosis. Osmosis adalah berpindahnya zat dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah melalui membran.

Berkat kemampuannya menguraikan bahan organik, jamur tergolong pengurai. Demikian pula bakteri. Tanpa adanya pengurai, lingkurangan akan dipenuhi oleh sampah, bangkai, dan bahan organik lainnya yang tak teruraikan.

clip_image004

^Gambar 1.1 (a) Jamur yang hidup
sebagai saprofit di daerah daun
(b) jamur yang hidup sebagai
parasit pada batang kayu

Ruang Lingkup (Peta Konsep)

clip_image005

Ciri Jamur

Anggota kingdom Fungi memiliki ciri khusus, yaitu eukariotik yang memiliki dinding sel, namun tidak memiliki klorofil. Karena tidak memiliki klorofil, jamur tidak dapat membuat makanannya sendiri yang berupa bahan organik. Bahan organik diperoleh dari lingkungannya, baik dari makhluk hidup lain atau dari sisa makhluk hidup. Pada uraian berikut kita akan mengenal lebih dekat ciri-ciri jamur.

Ukuran dan Bentuk Tubuh

Jamur ada yang uniseluler dan ada yang multiseluler. Namun, sebagian besar jamur multiseluler. Jamur yang uniseluler berukuran mikroskopik, contohnya khamir (Saccharomyces). Jamur multiseluler ada yang berukuran mikroskopik dan ada yang berukuran makroskopik. Lihat Gambar 1.2.

clip_image007

^Gambar 1.2 (a) Contoh jamur uniseluler : Saccharomyces (tanda
panah), dan (b) contoh jamur multiseluler

Bentuk tubuh jamur bervariasi, dari yang berbentuk oval pada jamur uniseluler sampai yang berbentuk benang atau membentuk tubuh buah pada jamur multiseluler. Jamur yang berupa benang membentuk lapisan seperti kapas, bercak, atau embun tepung (mildew) pada permukaan substrat tempat hidupnya, misalnya pada buah dan makanan. Tubuh buah jamur memiliki bentuk yang beragam antara lain seperti mangkuk, paying, setengah lingkarang, kuping, atau bulat (Gambar 1.3). Tubuh buah ada yang muncul di atas tanah dan ada yang berada di dalam tanah. Tubuh buah jamur tersebut berukuran makroskopik.

clip_image009

^Gambar 1.3 Contoh tubuh buah jamur: (a) tubuh buah berbentuk
paying, (b) tubuh buah berbentuk kuping (telinga), dan (c) tubuh
buah berbentuk bulat.

Struktur dan Fungsi Tubuh

Jamur adalah organisme eukariot dengan dinding sel yang tersusun dari kitin. Kitin adalah polisakarida yang juga terdapat pada kulit kepiting atau udang. Jamur tidak memiliki klorofil untuk melakukan fotosintesis. Beberapa jenis jamur memiliki zat warna. Contohnya Amanita muscaria memiliki tubuh buah berwarna merah. Jamur multiseluler memiliki sel-sel memanjang berupa benang-benang yang disebut hifa. Dilihat dengan mikroskop, hifa ada yang bersekat-sekat melintang yang disebut septum (jamak: septa). Septa meiliki celah sehingga sitoplasma antara sel yang satu dengan sel lainnya dapat berhubungan. Ada pula hifa yang tidak bersekat melintang, yang mengandung banyak inti dan disebut senositik. Adanya septa merupakan salah satu dasar klasifikasi jamur. Lihat Gambar 1.4 a dan b.

Hifa jamur bercabang-cabang dan berjalinan membentuk miselium (jamak: miselia). Lihat Gambar 1.5. Sebagian miselium ada yang berfungsi untuk menyerap makanan, Miselium untuk menyerap makanan disebut miselium vegetatif. Miselium vegetatif pada jamur tertentu memiliki struktur hifa yang disebut houstorium (jamak: houstoria). Houstorium dapat menembus sek inangnya. Bagian miselium juga ada yang berdiferensiasi membentuk alat reproduksi. Alat reproduksi ini berfungsi menghasilkan spora. Bagian miselium ini disebut miselium generatif.

clip_image011

^Gambar 1.4 (a) Hifa senositik (tanpa septum), (b) Hifa berseptum

clip_image013

^Gambar 1.5 Hifa yang membentuk miselium

Cara Hidup

Jamur menyerap zat organik dari lingkungannya. Sebelum diserap, zat organik kompleks akan diuraikan menjadi zat organik sederhana oleh enzim yang dikeluarkan jamur. Penguraian atau pencernaan zat organik di luar sel atau tubuh jamur ini disebut sebagai pencernaan ekstraseluler. Bahan organik yang diserap selain digunakan langsung untuk kelangsungan hidupnya, juga ada yang disimpan dalam bentuk glikogen.

Jamur bersifat heterotrof atau memperoleh zat organik dari hasil sintesis organisme lain. Zat organik dapat berasal dari sisa-sisa organisme mati dan bahkan tak hidup atau dari organisme hidup. Berdasarkan cara memperoleh makanannya, jamur bersifat saprofit, parasit, dan mutual. Lihat Gambar 1.6.

clip_image015

^Gambar 1.6 (a) Jamur saprofit yang tumbuh pada serasah, (b) Ustilago, jamur parasit pada tanaman jagung, dan (c) mikoriza, jamur mutual pada jaringan akar tanaman (tanda panah)

Saprofit

Jamur yang bersifat saprofit memperoleh zat organik dari sisa-sisa organisme mati dan bahan tak hidup. Misalnya serasah (ranting-ranting dan daun yang telah gugur dan melapuk), daun, pakaian, dan kertas. Jamur dengan sifat ini di alam berperan sebagai pengurai (dekomposer) utama. Penguraian oleh jamur menyebabkan pelapukan dan pembusukan.

Parasit

Jamur yang bersifat parasit memperoleh zat organik dari organisme hidup lain. Jamur dengan sifat ini merugikan organisme inangnya karena dapat menyebabkan penyakit.

Mutual

Jamur dengan sifat mutual hidup saling menguntungkan dengan organisme inangnya. Contohnyam jamur yang bersimbiosis dengan ganggang hijau biru atau ganggang hijau membentuk lumut kerak (lichen). Jamur membantu ganggang menyerap air dan mineral, sedangkan ganggang akan menyediakan bahan orgnaik hasil fotosintesisnya bagi jamur. Contoh lain adalah jamur yang bersimbiosis dengan akar tanaman tingkat tinggi membentuk mikoriza. Jamur akan meningkatkan penyerapan air dan mineral dari tanah oleh akar tumbuhan.

Habitat

Jamur hidup pada lingkungan yang beragam. Habitat jamur berada di darat (terestrial) dan di tempat-tempat yang lembap. Meskipun demikianm banyak pula jenis jamur yang hidup pada organisme atau sisa-sisa organisme di laut atau air tawar. Jamur dapat hidup di lingkungan asam, misalnya pada buah yang asam. Jamur juga dapat hidup pada lingkungan dengan konsentrasi gula yang tinggi, misalnya pada selai. Jamur yang hidup bersimbiosis dengan ganggang membentuk lumut kerak dapat hidup di habitat yang ekstrim, misalnya gurun, gunung salju, dan kutub. Jenis jamur lainnya dapat hidup pada tubuh organisme lain secara parasit maupun simbiosis.

Reproduksi

Jamur uniseluler berkembang biak secara aseksual dengan membentuk tunas dan secara seksual dengan membuat spora askus.
Jamur multiseluler berkembang biak secara aseksual dengan memutuskan benang hifa (fragmentasi), membentuk spora aseksual, yaitu zoospora, endospora, dan konidia. Jamur multiseluler bereproduksi secara seksual melalui peleburan antara inti jantan dan inti betina sehingga terbentuk spora askus atau spora basidium.
Zoospora atau spora kembara adalah spora yang dapat bergerak di dalam air dengan menggunakan flagela. Jamur penghasil zoospora biasanya hidup di lingkungan yang lembap atau berair.

Endospora adalah spora yang dihasilkan oleh sel dan spora tetap tinggal di dalam sel tersebut, hingga kondisi memungkinkan untuk tumbuh.
Spora askus atau askospora adalah spora yang dihasilkan melalui perkawinan jamur Ascomycota. Askospora terdapat di dalam askus, biasanya berjumlah delapan spora. Spora yang dihasilkan dari perkawinan kelompok jamur Basidiomycota disebut basidiospora. Basidiospora terdapat di dalam basidium, dan biasanya berjumlah empat spora.
Konidia adalah spora yang dihasilkan dengan jalan membentuk sekat melintang pada ujung hifa atau dengan diferensiasi hingga terbentuk banyak konidia. Setelah masak, konidia paling ujung dapat melepaskan diri.

Reproduksi jamur uniseluler secara:

Aseksual: membentuk tunas, membentuk spora

Seksual: membentuk spora askus

Reproduksi jamur multiseluler secara:

Aseksual: fragmentasi menghasilkan spora aseksual

Seksual: inti jantan dan betina bertemu, akhirnya membentuk spora
askus atau spora basidium.

clip_image017

^Gambar 1.7 Contoh berbagai macam spora: (a) zigospora, (b) basidiospora, dan (c) askospora

clip_image019clip_image021

^Gambar 1.8 (a) Reproduksi seksual denagn membentuk spora di dalam askus pada Ascomycota, (b) reproduksi aseksual pada Saccharomyces dengan bertunas, (c) reproduksi seksual dengan membentuk spora di dalam basidium pada Basidiomycota

Klasifikasi Jamur

Jamur diklasifikasikan berdasarkan cara reproduksi dan struktur tubuhnya menjadi Zygomycota, Ascomycota, Basidiomycota, dan Deuteromycota. Kali ini kita hanya membahas Deuteromycota. Untuk itu, kita akan membahas sekilas tentang Zygomycota, Ascomycota, dan Basidiomycota.
Zygomycota dalam reproduksi seksualnya, menghasilkan spora yang disebut zigospora. Ascomycota dalam reproduksi seksualnya, menghasilkan spora yang disebut askospora. Sedangkan spora yang dihasilkan dalam reproduksi seksual Basidiomycota disebut basidium.

Deuteromycota

Telah dibahas sebelumnya bahwa jamur yang reproduksi seksualnya menghasilkan askus digolongkan Ascomycota dan yang menghasilkan basidium digolongkan Basidiomycota. Akan tetapi, belum semua jamur yang dijumpai di alam telah diketahui cara reproduksi seksualnya. Terdapat kira-kira 1500 jenis jamur yang belum diketahui cara reproduksi seksualnya. Akibatnya, ilmuwan tidak dapat memasukkannya ke dalam Zygomycota, Ascomycota, atau Basidiomycota. Jamur yang demikian, untuk sementara waktu digolongkan Deuteromycota atau “jamur tak tentu” atau disebut juga jamur tidak sempurna. Jadi, Deuteromycota bukanlah penggolongan yang sesungguhnya atau bukan takson. Jika kemudian menurut penelitian ada jenis dari jamur ini yang diketahui reproduksi seksualnya, maka akan dimasukkan ke dalam Zygomycota, Ascomycota, atau Basidiomycota. Jika menghasilkan askus akan dimasukkan ke dalam Ascomycota, dan jika menghasilkan basidium akan digolongkan Basidiomycota.
Perubahan pengelompokan jamur tersebut akan mengubah nama spesiesnya. Sebagai contoh adalah jamur oncom. Mula-mula, jamur ini digolongkan Deuteromycota dengan nama Monilia sitophila. Namun, ketika Prof. Dwidjoseputro (almarhum) dari IKIP Malang (sekarang Universitas Negeri Malang) melakukan penelitian, ternyata Monilia sitophilia dapat melakukan reproduksi seksual dan menghasilkan askus. Oleh beliau jamur oncom dimasukkan ke dalam Ascomycota dan namanya Neurospora sitophila. Lihat Gambar 1.9. Beberapa jamur Deuteromycota lainnya yang diklasifikasi ulang menjadi Ascomycota antara lain jamur dari genus Aspergillus, Candida, dan Penicillium. Oleh ahli mikologi, nama genus Aspergillus diubah menjadi Eurotium, Candida menjadi Pichia, dan Penicillium menjadi Talaromyces.

clip_image023
^Gambar 1.9 Daur hidup Neurospora. Setelah diketahui reproduksi seksualnya menghasilkan askus, Neurospora dimasukkan dalam kelompok Ascomycota

Contoh jamur yang tergolong Deuteromycota adalah Tinea versicolor penyebab panu dan Epidermophyton floocossum penyebab penyakit kaki atlet. Berbagai penyakit jamur pada manusia banyak diakibatkan oleh jamur Deuteromycota. Demikian pula penyakit pada hewan.

Jamur Deuteromycota juga ada yang bermanfaat, yaitu Aspergillus. Aspergillus ada yang telah memasukkannya ke dalam Ascomycota. Akan tetapi, ada pula yang memasukkannya ke dalam Deuteromycota.

Aspergillus bersifat saprofit dan terdapat di mana-mana, baik di negara tropika maupun subtropika. Aspergillus hidup pada makanan, sampah, kayu, dan pakaian. Hifa Aspergillus bercabang-cabang. Pada hifa tertentu muncul konidior (pembawa konidia) yang memiliki konidiaspora yang tumbuh radial pada konidiofor. Coba perhatikan jamur berwarna kekuningan atau kecokelatan pada roti dan periksalah dengan mikroskop.
Beberapa di antara spesies Aspergillus ada yang digunakan untuk proses pengolahan makanan, misalnya:

  1. Aspergillus niger untuk menjernihkan sari buah
  2. Aspergillus oryzae digunakan untuk melunakkan adonan roti
  3. Aspergillus wentii digunakan untuk pembuatan kecap, tauco, sake, dan asam oksalat.

clip_image025clip_image027clip_image029

sumber: en.wikipedia.org

^Gambar 1.10 (a) Aspergillus niger, (b) Aspergillus oryzae, (c) Aspergillus wentii

Ada pula Aspergillus parasit yang menimbulkan penyakit aspergillosis yang menyerang paru-paru pada manusia, yaitu Aspergillus flavus. A. Fumigatus adalah penyebab infeksi saluran pernapasan.

clip_image031

< Gambar 1.11 Aspergillus romigatus, penyebab infeksi saluran pernapasan pada manusia

 

 

 

Kegiatan (Eksperimen)

Fermentasi Bahan Makanan dengan Jamur

Tujuan: Melakukan fermentasi kacang kedelai untuk membuat tempe

Alat dan Bahan: Kompor, Panci, Peniris/saringan, Tampah, Sendok pengaduk,
Sendok, Kantong plastik/daun pisang, Kain serbet, Kedelai
1 kg, Ragi tempe satu sendok teh

Cara Kerja:

  1. Sebelum digunakan, semua alat proses pembuatan tempe harus bersih.
  2. Cuci kedelai hingga bersih. Buang kedelai uang terapung. Kedelai yang terapung menandakan bahwa kedelai tersebut tidak berkualitas baik.
  3. Rebus kedelai sekitar satu jam agar kulitnya cukup mudah untuk dilepas.
  4. Kupas kulit kedelai dengan cara mengaduk-aduknya dalam ember.
  5. Cuci kembali kedelai sampai bersih.
  6. Rendam selama satu malam (12-24 jam)
  7. Rebus kembali dengan air rendaman selama sekitar satu jam.
  8. Tiriskan kedelai dan letakkan di tampah hingga dingin dan kering.
  9. Bubuhi satu sendok teh ragi tempe pada kedelai dan asuk hingga rata. Perhatian: tangan pengaduk harus bersih.
  10. Siapkan kantong plastik yang telah dilubangi kecil-kecil dengan tusuk gigi yang bersih. Selain kantong plastik dapat digunakan daun pisang.
  11. Isi kantong plastik itu dengan kedelai sekitar 75%, kemudian dilipat.
  12. Letakkan bungkusan-bungkusan kedelai di tampah, tutupi dengan serbet.
  13. Letakkan di tempta yang tidak kena matahari langsung (temperatur ruangan 26 - 30°C)
  14. Peram/diamkan selama dua hari. Setelah satu hari diperam, buka kain serbet.
  15. Setelah dua hari tempe siap dikonsumsi. Tempet yang sudah jadi masih mengalami proses fermentasi sehingga jangan ditutup rapat karena tempe dapat membusuk.

Pertanyaan:

  1. Mengapa tangan harus bersih sebelum mengaduk kedelai dengan ragi tempe?
  2. Mengapa sebelum diisi dengan kedelai plastik harus dilubangi terlebih dahulu?

Rangkuman

  1. Jamur atau fungi adalah organisme bersel tunggal atau bersel banyak, yang dinding selnya mengandung kitin, eukariotik, dan tidak berklorofil, hidup heterotrof secara saprofit, parasit, atau simbiosis
  2. Jamur sebagian besar multiseluler; berukuran mikroskopik atau makroskopik; berbentuk oval pada yang uniseluler, dan berbentuk filamen atau membentuk badan buah pada yang multiseluler
  3. Jamur multiseluler terbentuk dari rangkaian sel yang membentuk benang hifa, ada yang bersekat melintang dan ada yang tidak. Kumpulan hifa membentuk miselium.
  4. Jamur hidup di berbagai tempat, terutama di darat pada lingkungan yang lembap.
  5. Jamur melakukan reproduksi secara aseksual dan seksual. Secara aseksual dengan pembentukan kuncup pada jamur uniseluler, serta fragmentasi miselium dan pembentukan spora aseksual pada jamur multiseluler. Reproduksi seksual jamur adalah dengan pembentukan spora seksual.
  6. Deuteromycota multiseluler memiliki hifa sekat. Deuteromycota adalah golongan semua jamur yang belum diketahui cara reproduksi seksualnya.

Evaluasi

1. Jamur tidak dapat digolongkan ke dalam tumbuhan karena....
a. Dinding selnya dari kitin atau selulosa
b. hifanya ada yang tidak bersekat melintang
c. membentuk spora
d. tidak memiliki klorofil
e. bersifat autotrof

2. Oleh karena tidak memiliki klorofil, jamur hidup secara....
a. autotrof
b. heterotrof
c. kemoautotrof
d. fotoautotrof
e. simbiosis

3. Ada suatu jamur mikroskopik yang hifanya bersekat melintang, intinya dua, menghasilkan konidia, tetapi belum diketahui reproduksinya. Jamur tersebut digolongkan....
a. Zygomycota
b. Ascomycota
c. Basidiomycota
d. Deuteromycota
e. Oomycota

4. Dinding sel jamur sebagian besar tersusun atas....
a. kitin
b. ion-ion organik
c. polifosfat
d. lipid
e. glukan

5. Jamur yang digunakan untuk pembuatan tempe tempe adalah....
a. Amanita muscaria
b. Saccharomyces cereviceae
c. Penicillium notatum
d. Neurospora crassa
e. Rhizopus oryzae

Daftar Pustaka

Aryulina, Diah. 2007. Biologi 1 SMA dan MA untuk Kelas X. esis, Jakarta.

Syamsuri, Istamar. 2007. Biologi untuk SMA Kelas X Semester 1 1A. Penerbit Erlangga, Malang.